Yang dipandang “Sebelah Mata”

Sumber : Dok. Pri

oleh Yemima

Dalam hidup, kita tak luput dari komentar orang lain dan cobaan dalam menjalani aktivitas kita sehari-hari. Di sini saya mengamati dari YouTube, saya mencari kisah seorang penjual gorengan yang mampu menyekolahkan anaknya hingga jadi sarjana dan memperoleh pekerjaan yang lebih baik. Suatu yang bagi kita tidak mungkin bagi orang kelas menengah ke bawah, namun ada seorang yang membuktikan bahwa itu mungkin.

Gagasan.

Seorang penjual gorengan mampu menyekolahkan anaknya hingga lulus kuliah. Perantau yang bisa menghidupi keluarganya di kampung halaman. Sebagai suami juga ayah yang giat bekerja untuk istri dan anaknya. Usaha terus-menerus bisa menghasilkan keuntungan. Seseorang yang pantang menyerah dalam berusaha.

Pengamatan.

Bapak dalam YouTube tersebut bernama Sulaeman. Bapak itu merupakan seorang perantau asal Sumedang, Jawa Barat.

Pak Sulaeman merantau ke Jakarta Selatan tahun 1979 kurang lebih tiga tahun, lalu ke Pulo Gadung, Jakarta Timur kurang lebih dua tahun. Ia sedari awal merantau sendiri, sedangkan istri dan putrinya di kampung halaman.

Selanjutnya, bapak Sulaeman ke Purwakarta kurang lebih dua tahun. Tahun 1995, ia ikut abangnya di Dirgantara Permai.

Refleksi.

Pak Sulaeman pernah berjualan roti bakar tahun 1979-1982 di Jakarta Selatan, lalu berjualan bubur kacang hijau kurang lebih dua tahun di Pulo Gadung, Jakarta Timur, dan ia ke Purwakarta kurang lebih dua tahun. Tahun 1995 pindah di Dirgantara, ikut abangnya dan sudah tidak berjualan di sana.

Sebelumnya, di kampung, pak Sulaeman tidak ada usaha apapun makanya ia memutuskan untuk merantau dan berharap rejekinya ada di perantauan. Disamping berjualan gorengan, bapak Sulaeman juga menjadi petugas Muadzin di Mesjid Al-Ikhwan RW016.

Jika dikaitkan dengan ilmu psikologi behavioristik oleh Ivan Pavlov, kita dapat menyimpulkan bahwa yang menjadi ‘bel’ atau semangat pak Sulaeman dalam berusaha adalah kasihnya kepada keluarganya.

Sudut pandang lain.

Bagi kebanyakan orang termasuk saya, tidak mungkin orang yang hanya bekerja dengan penghasilan tidak pasti bisa mencukupi kebutuhan hidup keluarga. Orang lajang yang bekerja dengan gaji UMR saja masih sering kesulitan untuk mencukupi kebutuhan hidupnya sendiri, bahkan sering uangnya habis entah dipakai untuk apa.

Dilihat dari sudut pandang tokoh logika deduktif yaitu Aristoteles, kita dapat menyimpulkan bahwa:

Premis pertama, bapak itu seorang ayah.

Premis kedua, bapak itu mencoba berbagai usaha untuk menghidupi keluarganya.

Kesimpulan deduktifnya yaitu bapak itu adalah seorang ayah dan mencoba berbagai usaha untuk menghidupi keluarganya.

Dialog.

Di video tidak dijelaskan apakah ada yang menolak atau tidak. Namun, bapak Sulaeman sepertinya didukung oleh istri dan anak semata wayangnya, juga abangnya yang merupakan anggota TNI AU.

Hasil penjualan gorengan pak Sulaeman sebelum covid-19 rata-rata Rp200.000,-/hari. Tetapi setelah pandemi, penghasilannya menjadi rata-rata Rp30.000,-/hari.

Ia pulang kampung setiap sebulan sekali untuk menemui keluarganya, sebagai seorang ayah pasti pak Sulaeman merindukan keluarganya.

Apresiasi.

Bapak Sulaeman merupakan salah seorang dari sekian banyak orang yang berpenghasilan tidak pasti namun memiliki semangat untuk hidup dan menghidupi keluarga. Kisah bapak ini bisa dijadikan motivasi untuk kita agar semangat dalam berusaha. Jadi, selalu ada jalan bagi setiap kita yang mempunyai kemauan, keinginan dan harapan.

Jika ditinjau dari segi strata sosial menurut Soerjono Soekanto yang mengatakan bahwa dalam masyarakat ada pelapisan sosial secara vertikal; dapat disimpulkan bahwa kisah pak Sulaeman bisa masuk dalam strata sosial terbuka Max Weber. Kita tahu bahwa strata sosial terbuka adalah proses ini bersifat sangat dinamis, dengan demikian mobilitas masyarakat sangatlah tinggi. Dan setiap anggota kelompok masyarakat mempunyai kesempatan untuk berpindah naik atau turun dalam hierarki sosialnya.

Karena kemauan dan kerja keras, anak pak Sulaeman bisa lulus menjadi sarjana dan bekerja di sebuah perusahaan. Ia dapat menunjukkan kepada kita (penonton) bahwa kehidupan sosial seseorang bisa berubah menjadi naik.

Motivasi yang kita dapat ambil dari kisah bapak Sulaeman ini, yaitu: kepala keluarga yang baik selalu ingat akan tanggung jawabnya kepada keluarganya. Adanya usaha yang terus-menerus dapat membuahkan hasil. Jangan berputus asa meskipun kita sering gagal, jatuh di lubang yang sama, atau hal buruk lainnya yang terjadi pada kita. Kita harus bangkit dan bangun kembali selagi kita masih bernafas.

Sebagai orang tua pak Sulaeman tidak ingin anaknya bekerja susah payah, namun ingin anaknya bekerja lebih baik darinya. Dan kisah bapak itu bisa membuktikan kepada kita semua, strata sosial bisa berubah dengan adanya usaha.

Sumber analisis dari:

PEDAGANG GORENGAN BISA MENYEKOLAHKAN ANAK SAMPAI SARJANA (@LasimanPrabowo ) – YouTube

Apa Itu Stratifikasi Sosial? Ini Pengertian, Indikator, hingga Jenis-jenisnya (detik.com)

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *