Gelas Kosong

Fr. M. Christoforus, BHK

   “Aku hanya mengetahui satu hal, bahwa aku tidak tahu apa-apa”     (Paradoks Sokratik)

Kita, sang manusia, si genius yang tiada tara istimewa. Konon, dia makhluk yang terbuang dari langit biru tanpa sepengetahuan dan kehendaknya. Dan sang dia, dibiarkan berziarah di bumi maya. Hidupnya penuh risiko.

Para Arif bijak, pernah menyimbolkan sang manusia sebagai sebuah bejana tanah liat. Dia, dibentuk sesuka hati oleh sang seniman bejana tanah liat.

Selain sebagai bejana tanah liat, sang manusia pun disimbolkan dengan sebuah gelas kaca. Apa itu gelas kaca? Alat yang digunakan untuk mengisi air untuk diminum.

Dan sebuah gelas kaca pun disimbolkan sebagai ‘jati diri’ seorang anak manusia. Maka, keadaan sang manusia pun dapat dikategorikan ke dalam tiga buah gelas.

(1) Gelas penuh : gelas yang terisi air sampai penuh.

(2) Gelas setengah penuh : gelas yang terisi air sampai setengah penuh.

(3) Gelas kosong : gelas yang tidak terisi setitik air pun.

Ada pun refleksi kita saat ini, hal “sebuah gelas kosong,” (empty glass). Gelas kosong adalah gelas yang kosong, tanpa setitik air pun. Tidak penuh dan juga tidak kosong.

Dalam konteks spesial ini, kita, sang ajaib di atas bumi ini, pada hakikatnya, hanyalah sebuah gelas kosong.

Ada pun pribadi hebat, yang disimbolkan dengan sebuah ‘gelas kosong’ adalah sosok pribadi yang memiliki hasrat kuat, bahkan terobsesi untuk terus mencari tahu dan belajar tanpa lelah.

Karena sang dia pun menyadari, bahwa dirinya hanyalah sebuah gelas kosong melompong.

Bahkan, saat bertekad untuk belajar, dia pun rela untuk mengosongkan gelas pikirannya sendiri.

Itulah sebentuk kerendahan hati sejati.

Dan di dalam konteks ini, kita, terlebih kaum muda kita, agar tahu dan sadar diri, bahwa sejatinya; kita ini justru tidak tahu apa-apa tentang hakikat hidup ini.

Kini kita pun mulai sadar, mengapa ilmu filsafat yang adalah induk segala ilmu pengetahuan, justru disebut, ‘ilmu haus nama’ Karena filsafat pada hakikatnya, ilmu yang terus mempertanyakan hakikat segala sesuatu sampai ke radiksnya. 

Hanya pribadi-pribadi sejati, yang mampu menyadari, bahwa hakikat dirinya hanyalah sebuah gelas kosong. Untuk itu, maka dia pun akan terus belajar demi mengisi gelas hidupnya yang masih melompong itu.

Dan hanya pribadi yang sungguh-sungguh rendah hati, yang biasanya akan sanggup memahami konsep dasar ini. Dia, akan sangat terbuka hatinya; akan seluruh realitas hidup ini, demi memahami hakikat dasar dari segalanya.

Mari saudara, belajarlah untuk bersikap rendah hati, demi mengisi gelas-gelas kosong di dalam hidup kita.

Kediri, 11 Agustus 2023

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *