Diana: Keluar Zona Nyaman

“Hidup ini seperti mengendarai sepeda, untuk menjaga keseimbangan, kita harus tetap mengayuh”. – A. Einsten

Akhir januari 2020, bagaikan disambar petir, tiba-tba disodori secarik kertas untuk  ditandatangani.

Isi surat  tersebut menyatakan bahwa saya  dipensiun dini dari kantor kerja.

Selama hampir 25 tahun mengabdi, tidak terlintas di benak sekalipun harus berwirausaha.

Pertanyaan dalam hati kecil.. “Apa karena di zona nyaman? Apa aku bisa keluar dari zona nyaman? Apa yang harus aku kerjakan?

Sepanjang waktu bekerja berada rutinitas kantor-rumah. Kantor-rumah. Ditambah lagi tembok-tembok  dibangun kantor  sangat tinggi, sehingga saya tidak  mengenal dunia luar.

Tidak ada kesempatan memikirkan aktivitas selain bekerja dan bekerja di kantor..

Kembali lagi, pertama-tama yang harus saya tanamkan di otak…, Aku saatnya keluar zona nyaman. Aku saatnya beraktivitas lebih beragam.

Aku saatnya menghidupkan skill ku yang selama ini terpendam.

Panik pastinya. Resah tentu. Bimbang iyalahh….. apa yang harus saya kerjakan????

Selama ini dengan rutinitas… berangkat pagi pulang sore…

Dalam kegalauan, aku akhirnya menjajal bidang kuliner, semula bikin masakan rumahan. Tentu berguru ke ibu yang pandai memasak menu rumahan.

Menu tersebut untuk men-supply teman-teman kantor ketika makan siang.

Dalam perjalan pikirann untuk belajar, mencoba kue-kue. Salah satu caraku ialah mencari-cari  internet resep-resep kue.

Memulai menggati aktivitas lama menjadi aktivitas baru tentu butuh kondisi tersendiri. Dan, berat, bingung, karena merasa tidak ada bekal apapun.

Selain itu secara psikis dan perteman dijauhi teman satu persatu… ditinggalkan, tidak  ada yang support….down jelas…

Apa kata tetangga… “biasa berangkat pagi pulang sore.”

Sekarang kok dirumah terus ….. takut keluar rmh. Takut ditanyai orang …. kok jam segini dirumah ????!!!. Rasa minder pasti… menuju stresss…

Menambah beban pikiran orang tua. Anak yang dibanggakan kerja di kantor ..sekian lama, tiba-tiba dipensiun dini.

Beban pikiran suami, istri yang  dibanggakan bekerja di kantor  sekian tahun..tiba-tiba  dipensiun dini. Juga pikiran anak-anak.

Hal dasar yang aku alami yaitu tidak ada bekal dalam memulai usaha kuliner.

Ditambah lagi, tidak ada teman yang mau berbagi resep dan trik dalam mengolah resep.

Berulang kali mencoba resep… sering gagal daripada berhasil.

Bisa produksi….  terus mikir cara menjualnya… sudah diposting2… belum ada yang minat…

Tantangan lainnya ialah sudah dibubungi  satu persatu, tidak ada respon. Sungguh terasa menyakitkan.

Namun demikian perjalan waktu dann usaha  keras mulailah muncul ketrampilan buat beberapa produk.

Ada beberapa produk andalan diantaranya : Risol mayo/ ragout, soes vla/ragout, lumpur kentang, nasi kotak.

Selain itu ada juga mie pangsit/ mie ayam, tentu masih ada pilihan menarik lainnya.

Sebagai pemula tentu muncul pemikiran, bagaimana cara memasarkan produk. Selain pertemanan

Selama ini via medsos status WA ato IG. Japri-japri  teman.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *