NAPI

*) Eddy Junaedi

Bagi orang awam kata “napi” bisa diartikan banyak hal. Sebagai sosok kriminal, orang jahat, orang yang kejam dan lain sebagainya. Orang sering mengatakan….” Ayahnya si anu mantan napi” , “ dia dulu seorang napi di lapas A “ dan lain sebagainya. Semua kalimat diatas bermakna negatif. Napi adalah sebuah kata yang sering disebut untuk seorang narapidana. Dalam kamus besar bahasa Indonesia, narapidana diartikan sebagai orang hukuman {orang yang sedang menjalani hukuman darena tindak pidana}, terhukum. Berdasarkan Undang undang nomor 22 tahun 2022 tentang pemasyarakatan, narapidana adalah terpidana yang sedang menjalani pembinaan di lembaga pemasyarakatan atau lapas.

Memang benar pada kenyaataannya bahwa napi adalah mereka yang sedang menjalani hukuman di lembaga pemasyarakatan yang kemudian disebut lapas, karena mereka telah melakukan perbuatan yang melanggar hukum. Bagi kebanyakan orang napi identik dengan penjahat, kalau penjahat berarti tidak bermoral, tidak beretika, tidak mau beribadah,  tidak mengenal sopan santun, susah diatur, dan lain sebagainya tentunya yang berkonotasi negatif.

Namun pada kenyataannya saat ini di berbagai lapas di indonesia, napi itu bukanlah orang yang susah diatur, banyak diantara mereka taat beribadah (apapun agamanya), hidupnya lebih teratur di dalam lapas, mereka juga hormat dan patuh pada petugas, banyak dari mereka rajin bekerja baik bercocok tanam, membuat mebeulair, membuat bakery, membuat kerajinan tangan, membatik dan kegiatan lainnya yang ada di dalam lapas.

Kehidupan mereka menjadi lebih tertib di lapas, karena mereka sudah diatur waktunya kapan berada di dalam kamar atau kapan berada diluar kamar. Jam 06.00 kamar mereka dibuka pintunya untuk memulai kegiatan pada setiap harinya. Dimulai dari membersihkan kamarnya, kemudian membersihkan dirinya (mandi). Kemudian mereka melakukan berbagai kegiatan, sesuai dengan program pembinaan yang telah ditetapkan untuk mereka masing masing. Ada yang kegiatan pertanian, ada yang beraktivitas di bengkel kerja, ada yang melakukan kebersihan di ruangan kantor, ada yang ke tempat ibadah baik kebersihan maupun untuk kepentingan beribadah, ada yang berolahraga, ada yang mengikuti kegiatan kepramukaan, dan lain sebagainya.

Pada saat azan dzuhur, bagi mereka yang beragama islam, melakukan shalat dzuhur berjamaah di masjid, begitu pula pada saat waktu shalat ashar. Dan bagi yang beragama lain, mereka juga melakukan kegiatan ibadah pada tempat tempat ibadah yang telah disediakan pihak lapas. Pada sore harinya mereka juga masih melanjutkan kegiatannya. Pada jam 17.00 mereka bersiap siap untuk kembali ke kamarnya masing masing.  Pada malam harinya mereka mengisi kegiatannya didalam kamar masing masing hingga pintu kamar dibuka kembali pada keesokan harinya.

Begitulah kegiatan para napi di dalam lapas selama bertahun tahun mereka jalani sesuai dengan putusan pengadilan yang diputuskan untuk mereka masing masing. Memang kehidupan yang mereka jalani di lapas, tidak selamanya berjalan mulus. Kadang ada saja konflik konflik sosial diantara mereka baik konflik individu maupun kelompok. Namun semuanya ada pranata yang mengatur sehingga konflik yang terjadi selalu diupayakan untuk diselesaikan dengan baik.

Fakta di lapangan jumlah napi di dalam lapas bukan semakin menurun, namun sebaliknya semakin meningkat. Data yang diperoleh dari Direktorat Jenderal Pemasyarakatan pada tahun 2020, jumlah napi di Indonesia adalah 249.056 orang, dan pada tahun 2022 adalah 278.849 orang. Terjadi peningkatan hampir 30 ribu napi dalam kurun waktu dua tahun. Tentu situasi ini kontradiktif dengan situasi napi didalam lapas yang sudah berperilaku baik, namun angka kriminalitas di masyarakat masih tinggi. Jadi apa sebenarnya yang terjadi dengan situasi ini  ???

*) Pegiat Pemasyarakatan

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *